Jumat, 16 Desember 2016

Lelakiku

Menangislah...
Semoga basah air matamu sederas hujan semalam
Ketika kita membasuh luka dengan terbata
Di bawah gigil dinginnya dedaunan
Larutkan saja...
Larutkan kesedihan kita semalam bersama rintik hujan yang membasuh kelam untuk dukamu, akan lukaku
Aku hendak berkemas, pergi menuju jauh pengembaraan
Patahan do'a yang semalam engkau jejalkan, rasanya cukup untuk aku hirup sebagai bekal perjalananku nanti
Meski aku belum lagi mengerti securam apa pendakian yang kan aku lalui nanti
Aku tak ingin menyerah...
Tak hendak mengaku kalah
Ini hanya jelmaan pemahaman akan akhir sebuah perjalanan.
Tentu sayang...
Tentu aku akan rindu...
Pada tasbih yang terlafadzkan
Pada ayat-ayat yang terlantunkan
Pada sujud yang tak letih kita lengkungkan
Secepat ini kebersamaan kita berakhir...
Itu saja yang aku ratapi lelakiku
Betapa pada berpuluh malam, kerap nafasmu sering terabaikan
Kini.. Ketika takdir tak lagi banyak memberi waktu
Tak ada lagi sisa-sisa mimpi untukku genggam sebagai janji
Aku menuju hilang lelakiku...
Tak ada lagi yang bisa aku wariskan untukmu selain kenangan yang tak sempurna akan malam-malam sederhana...
Yang pernah kita lewati bersama...
Menangislah...
Walau hujan semalam kini telah reda, telah lelah membasuh luka..
Luka yang tak terencana oleh kita
Oleh waktu yang tak memberi restu...
Menangislah...
Menangis hingga kau lupa aku yang kini telah berkemas...
Telah melangkah pergi jauh...
Tak terlihat lagi, meninggalkanmu sendiri disini!
Maafkan aku lelakikuku...
Aku pergi bukan karna aku benci, aku pergi karena waktu
Waktu yang tak merestui hati ini
Hentikan tangisanmu kini
Karena aku telah hilang di balik malam.
Tertelan gelap dan tak akan kau temukan lagi sekalipun itu dalam impian yang suram!